If you get serious, you get stupid. Laughter is the close distance between two person.

Monday, June 4, 2012

Mengapa Sahabat Butuh IEQ?


Dapat dikatakan bahwa sejak dulu kala bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah tamah, suka menolong, dan masyarakat yang penuh kegotongroyongan. Ya begitulah, pesan dari pendidikan moral yang kita terima sejak jaman dulu. Terbukti dalam berbagai tulisan, masih banyak pihak yang membicarakan soal Karakter bangsa kita yang ramah tersebut.

“Lalu, apa kelemahan kita?"


Kelemahan kita ialah, kita Kurang Jujur dan kurang percaya diri kita sebagai bangsa yang Merdeka dan berdaulat, sehingga kita lebih suka menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” 


“Ibaratnya laki-laki dan perempuan sebagai sepasang sayap seekor burung. Jika dua sayap tersebut sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; namun jika patah salah satu daripada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali” 

- Soekarno.

Tentu hal ini ada benarnya, dan bukan Cuma sekedar upaya untuk menyakinkan bangsa secara dangkal, kemudian menutup mata atas kenyataan yang kita alami belakangan ini.

Mari kita coba untuk evaluasi bangsa kita  dari perspektif IEQ, yang konon begitu ampuh dan terkenal, ada 4 komponen utamanya, yaitu:

• Ketahui tentang diri
• Pilihan untuk  diri
• Ekologis
• Pemberian dari diri

Pertama tama, mari kita lihat konteks ketahui tentang diri. Bagian ini bicara tentang Kesadaran diri dan Penerimaan diri kita. Bagaimanakah bangsa kita belakangan ini? Kenyataannya kita seringkali Minder, Malu, dan terus merasa sebagai bangsa kelas dua. Terlihat dibeberapa perusahaan yang terdiri dari para expat dan pekerja dari luar negeri, kita menyaksikan bagaimana Tenaga Kerja Indonesia diperlakukan dan sikapnya cenderung minder. Padahal, mereka memiliki potensi dan kemampuan yang luarbiasa. Mereka tidak semestinya diposisikan seperti Budak  Domestik maupun Manca Negara  akan tetapi sebagai PARTNER KERJA. Namun kenyataannya, mereka terus menerus diposisikan begitu rendah baik di dalam maupun di luar negeri, akibatnya mereka sering mendapat perlakuan yang rendah dan tidak sebagaimana mestinya.

Pada bagian pertama, Ketahui tentang diri, bukan cuma berarti hanya untuk diri sendiri akan tetapi juga kemampuan kita untuk mengetahui diri orang lain, yakni Kepekaan kita. Dengan adanya Kepekaan diri selanjutnya timbul kepedulian diri, ini bisa kita liat dalan keseharian kita, dijalanan sering kali kita lihat bagaimana pengendara kendaraan bermotor berulah, menerapkan prinsip asal cepat sampai tujuan, tidak peduli dengan orang lain.

Di bagian Kedua IEQ, yaitu Pilihan untuk diri, ya kita bicara tentang pilihan pilihan atau sikap yang dilakukan saat kita menghadapi suatu masalah atau perisiwa. IEQ selalu bicara soal bagaimana kita seharusnya dengan sigap merespon sambil memikirkan dahulu pilihan apa saja yang bisa kita lakukan.
Selanjutnya, dari pilihan yang tersedia, kita memikirkan akibat yang muncul yang kita sebut konsekwensi, artinya perbuatan kita sudah dipikirkan dengan masak. Contoh, dalam hal menggunakan Narkoba, tanyakan apa akibatnya pada diri, keluarga, masyarakat, apa keuntungannnya dan masih banyak sederetan pertanyaan lain karena kita sudah tahu keburukannnya, namun mungkin kita belum sadar saja. Hal ini diperparah oleh pihak-pihak yang ingin instan, misalkan untuk dunia pendidikan, terlihat banyak pihak yang lebih suka membagikan susu sehat disekolah, daripada menghidupkan IEQ, hanya karena popularitas pembagian susu lebih heboh, lebih terasa walau Cuma dalam waktu singkat dan lebih gampang, kan cuma membagikan susu, dipotret pula oleh media massa dan pers, sungguh memilukan sekaligus memalukan.

Pada bagian Ketiga IEQ, yaitu Ekologis adalah saatnya kita memikirkan resiko dan dampak yang akan muncul dari perbuatan kita dalam jangka pendek, menengah dan panjang, ada hal-hal yang mungkin perlu segera kita kelola lebih lanjut, hal-hal yang seharusnya kita hindari atau kurangi dan seterusnya agar tercapai keseimbangan.

Dibagian terakhir dari komponen IEQ adalah Pemberian dari Diri. Disinilah Diri Sejati muncul artinya ada Trust  dan Comitment Diri untuk memberikan kemampuan, potensi atau diri kita untuk sesuatu yang lebih panjang dari “USIA” diri kita sendiri, pemberian dari diri pun dapat diartikan pelayanan kita, ataupun bakti yang kita berikan secara Tulus. Sayangnya, masih belum banyak Keteladan seperti ini, yang bisa kita saksikan pada masa kini. Manusianya pun bukan manusia Masa Lalu, bukan manusia Masa Depan, bukan pula manusia Masa Kini akan tetapi sebagai manusia Masa Bodoh. Masalah lain, justru orang-orang yang melakukan pelayanan yang luarbiasa, yang mendarmabaktikan dirinya tanpa pamrih, yang seharusnya lebih lama menghuni dan menghiasi negeri ini, malah terasa begitu cepat dipanggil kembali oleh Tuhan.

Pada akhirnya muncul seloroh,” Yang JUJUR, yang Digusur” atau “Makanya jadi orang jangan terlalu baik karena akan cepat dipanggil Tuhan” seloroh konyol ini malah tumbuh subur dan melekat di masyarakat, sehingga muncul anggapan kalau kita berbuat baikpun toh orang lain tidak akan bersikap baik kepada kita, hal ini juga terlihat dalam dunia bisnis, yang seakan akan kalau tidak bohong, maka tidak akan suksesapalagi kaya. Metode aji mumpung pun dipakai secarah berjamaah.. :(

Sudah saatnya bagi Sahabat semua untuk semakin mau membuka pintu Hati dengan IEQ sebagai Master kunci nya, ini menjadi salah satu tugas Sahabat untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi anak cucu, serta generasi berikutnya. Ada pepatah,”Bahwa bumi ini bukan warisan kita kepada anak cucu kita akan tetapi  merupakan TITIPAN dari anak cucu kita yang harus kita pertanggungjawabkan dengan Bijaksana”

Nah bisa kita lihat bersama, betapa relevannya IEQ untuk kondisi bangsa kita saat ini, ayo mulai sekarang dan seterusnya Sahabat imbangi Kecerdasan Intelektual Sahabat dengan Kecerdasan Emosi Sahabat. Mari Sahabat sebarkan IEQ, Cerdas Emosiku, cerdas pula Bangsaku...

Sahabat semua adalah Generasi INTAN (bukan INSTAN), silahkan mengasah IEQ milik Sahabat secara Gratis dan mudah serta TANPA EFEK SAMPING... Baik ya...

Sunday, June 3, 2012

Pondok Indah Mertua (PIM)

Suatu hari, dalam sebuah rumah tinggallah seorang gadis cantik, suami, dan ibu mertuanya. Amat disayangkan, sang gadis seringkali bertengkar dengan ibu mertuanya. Setiap hari selalu saja ada hal-hal yang dapat mereka pertengkarkan, bahkan hal yang sepele sekalipun mampu membuat pertengkaran yang seru. Sang ibu mertua merasa mantunya selalu kurang ajar dan sulit dididik, sementara sang gadis sering merasa bahwa ibu mertuanya tersebut selalu menyakitkan hati dengan ucapan-ucapannya. Kejadian ini terus berlangsung seiring berjalannya waktu, hingga suatu hari sang gadis yang merasa menderita sudah tidak tahan lagi. Lalu, dia pergi ke sebuah toko obat.

“Tolong berikan kepada saya racun yang paling ampuh,” ujarnya kepada si penjual obat.

“Mengapa kamu menginginkan racun seperti itu?” tanya si penjual obat.

“Saya sudah tidak tahan lagi atas segala perlakuan buruk ibu mertua kepada saya. Saya ingin
membuatnya mati sekarang juga,” kata sang gadis dengan muka yang cemberut.

“Baiklah kalau begitu. Saya akan memberimu racun yang ampuh seperti yang engkau kehendaki, akan tetapi agar misi kamu berjalan dengan baik kamu harus mengikuti saran saya,” ujar si penjual obat.

“Saran apalagi yang bisa kamu berikan?” tanya sang gadis dengan penasaran.

“Kamu harus memberikan racun ini ke dalam makanan dan minuman kesukaannya selama 30 hari. Racun ini bekerja lamban namun pasti. Ini demi keselamatan kita bersama agar tidak diketahui polisi atau ditangkap polisi. Agar tidak dicurigai orang bahwa kamu sebagai pelakunya, suguhkanlah kepadanya dengan sepenuh hati kamu, bersikaplah sebagai mantu yang amat baik. Kamu harus  melayaninya dengan baik, sehingga ia tidak curiga bahwa ia sedang memakan racun yang amat mematikan ini. Perlakukan ia, seolah-olah ia adalah ibu kandung kamu sendiri.”

Sang gadis merasa saran si penjual obat itu cukup masuk akal utuk dilaksanakan. Pulanglah ia ke rumah dengan riang gembira. Sebentar lagi, kehidupan rumah tangganya akan lebih tenang dengan kematian ibu mertuanya. Ia pun sibuk bertanya-tanya kepada suami dan saudara-saudaranya bahkan tetangganya mengenai makanan dan minuman kesukaan sang ibu mertua. Dalam hati sang gadis, toh hanya 30 hari lagi tidak apa-apa. Mereka pada awalnya bingung campur heran dengan sikapnya yang mendadak berubah baik. Namun dengan alasan bahwa ia ingin menjadi mantu yang baik, akhirnya mereka semua mau membantu sang gadis dengan memberikan saran-saran untuk mengambil hati sang ibu mertua.

Sang gadis, mulai belajar untuk lebih banyak tersenyum, mendengarkan dari hati, berperilaku dengan lebih baik dan sopan, sampai cara memandang dengan penuh perhatian dan kasih. Dengan mati-matian sang gadis berusaha untuk mengkoreksi segala perkataan dan perbuatannya dihadapan sang ibu mertua yang ia anggap bisa membuat sang ibu mertua tersinggung. Sering pula sang gadis mendampingi kemana pun sang ibu mertua pergi.

Hari telah berganti hari, sang gadis mulai merasakan perubahan perasaannya sendiri kepada sang ibu mertua. Tanpa diketahui dari mana asalnya, sang gadis merasa mulai menyayangi sang ibu mertua yang berakibat sang ibu mertua pun mulai belajar untuk menyayangi sang mantu. Suaminya pun merasa lega, karena pertengkaran  antara istri dan ibunda nya sudah berakhir. Kedamaian pun mulai bersemi karena sudah tidak ada lagi pertengkaran yang terjadi dalam waktu belakangan. Melayani seseorang dengan sepenuh hati membuatnya mampu melihat sisi-sisi yang baik yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Hal yang sama, rupanya juga terjadi pada diri sang ibu mertua. Ia sudah menerima sang mantu dengan sepenuh hati dan tidak pernah lagi mempersalahkan kekurangan-kekurangan mantunya tersebut.
Menyadari keadaan ini, tiba- tiba sang gadis ingat bahwa ini mendekati hari terakhir sang ibu mertua, buru-buru ia menghampiri si penjual obat.

“Saya mohon, segera berikan penawar racun itu pada saya, sekarang juga. Saya tidak ingin ibu mertua saya meninggal,” pintanya dengan mata yang sendu.

“Lha, dulu kamu sangat menginginkan kematiannya. Apa yang terjadi?” tanya si penjual pura-pura panik.

“Setelah saya jalankan saran kamu, ibu mertua saya berubah menjadi sangat baik. Ia tidak lagi mengungkit-ungkit kesalahan saya bahkan menerima kekurangan saya, saya pun mulai banyak melihat banyak sisi-sisi baik yang ada dalam dirinya. Yang lebih penting lagi, ia telah menyayangi saya seperti anaknya sendiri, seperti saya menyayanginya layaknya ibu saya sendiri,” tegas sang gadis.

“Oh begitu ceritanya. Kamu jangan khawatir, sebenarnya yang saya berikan kemarin bukan racun melainkan penyedap masakan dan obat untuk meningkatkan kesehatan orang tua. Racun yang sebenarnya ada dalam pikiran kamu, cara kamu berpikir, berkata, berperasaan dan berperilaku. Sekarang kamu telah lulus belajar bahwa mengubah perilaku kamu akan mengubah sikap kamu yang otomatis mengubah cara berpikir. Dan itulah yang telah kamu rasakan manfaatnya sekarang, racun kamu, sudah kamu tawarkan dengan sendirinya, selamat berbahagia...,” kata si penjual obat dengan tersenyum lebar.

***

Dari kisah diatas, dapat saya simpulkan bahwa perubahan yang diharapkan oleh sang gadis adalah adanya sikap baik sang ibu mertua. Ketidakcocokan dan pertengkaran diantara mereka telah mencapai puncaknya yang membuat sang gadis sudah tidak tahan lagi dan ingin mengakhiri nyawa sang ibu mertua. Akan tetapi, si penjual obat yang kebetulan dimintai tolong untuk memberikan racun yang mematikan, ternyata mampu melihat akar permasalahan yang sesungguhnya dari pertikaian sang gadis dengan sang ibu mertua. Berawal dari informasi yang akurat, si penjual memberikan intervensi jitu meski secara tidak langsung kepada “klien” nya. Akhirnya, si penjual memberikan Empati sekaligus intervensi yang membukakan jalankeluar yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh sang gadis dan sang ibu mertua, yang sedang sibuk konflik tersebut.

Oh ya, ada pesan yang menarik hati untuk Sahabat;

“Jangan pernah membuat keputusan ketika amarah menguasai Sahabat. Jangan pernah juga mengucapkan janji ketika bahagia menyelimuti Sahabat”

Berpikir, bertindak dan merasa mencintai, maka perasaan cinta akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Saya teringat nasihat dari nenek saya, bunyinya;

"Mereka yang mengalah bukanlah berarti orang yang lemah, karena sesungguhnya mengalah memerlukan kekuatan yang lebih."

Siapa yang dapat mengganti peran dan kasih sayangnya? Tidak ada, ini sesuatu yang tak tergantikan. Dengan hati yang penuh kasih dan perhatian yang tulus kepada Ibu ataupun Ibu mertua, ini akan menjadi catatan tersendiri dalam Buku Kehidupan Tuhan.

Mereka menantikan perhatian dan kepedulian Sahabat. Hati akan semakin tersayat, ketika ia berpulang, Sahabat belum mampu berdamai dan Cuma dapat menyaksikan jasadnya. Silahkan Sahabat gunakan IEQ dan selamat menikmati kebersamaan dengan Ibu tercinta, sebelum semua jadi terlambat.

Kemampuan Ber-Empati

Indonesian Emotion Quotient (IEQ) adalah kemampuan Empati berikut nilai-nilai KEJUJURAN yang sudah dimiliki Masyarakat Lokal Nusantara secara turun temurun yang mempunyai fungsi mengatur interaksi kegiatan masyarakat atau komunitas-nya, memperlakukan Alam sekitarnya, termasuk pola pergaulan yang arif dan bijaksana.

Mungkin pernah terbersit di dalam benak kita mengapa pada zaman Nenek Moyang kita dahulu jarang sekali terjadi atau bahkan tidak pernah terjadi Bencana Alam yang disebabkan oleh ulah manusianya sendiri dan juga mengapa jarang sekali terjadi perselisihan antar warga.

IEQ yang menyebabkan jarangnya terjadi hal-hal buruk seperti itu. Hal ini dikarenakan, Masyarakat Nusantara dengan kesadarannya menjalani kehidupannya hari demi hari. Dimana didalamnya berisi Empati berikut nilai-nilai KEJUJURAN, membuat interaksi Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan Alam tampak begitu saling mengisi dan menyayangi.

Kemampuan berEmpati inilah yang selalu digunakan oleh Nenek Moyang kita karena mereka sadar bahwa hidup ini saling bertergantungan antara satu dan lainnya, termasuk pada Alam sekitar sehingga Nenek Moyang kita pun selalu merawat hubungan antara Kesadaran Diri dan Emotion Quotient nya.

Intinya, bagaimana Alam bisa memberikan yang terbaik bagi manusia jika manusia yang hidupnya tergantung pada Alam tersebut berlaku tidak baik kepada Alam itu sendiri. Oleh karenanya, agar alam tidak murka, pola interaksi yang harmoni antar sesama Manusia, antar Manusia dengan Alam, harus terus dijaga dengan IEQ yang terasah.

Oleh karenanya, Nenek Moyang kita yang senang memelihara Alam termasuk yang hidup di sekitarnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan yang merupakan bagian dari Alam itu sendiri, sehingga Nenek Moyang kita tidak pernah memburu Binatang atau menebang Tumbuhan cuma untuk dijadikan kesenangan belaka. Hal inilah yang membuat Alam mau bersahabat dengan manusia pada zamannya dan Ekologi pun terbentuk.

Memahami  IEQ  secara fungsional, maka sudah selayaknya sebagai Manusia menggunakan Perasaan dan Akal Pikiran untuk hal-hal yang baik dengan Trust dan Komitmen tinggi. Jadi pergunakanlah Pikiran dan Perasaan Sahabat untuk menstimulus Spiritual dan Raga Sahabat pada hal-hal yang bijak, dan bukan hanya digunakan untuk mengumbar hawa nafsu saja, dalam memperlakukan Alam sekitar  termasuk seluruh penghuninya, tempat Sahabat juga menumpang hidup.

Ada kata Bijak yang pernah saya dengar dari Sahabat saya, kira-kira begini;

"Orang yang beriman akan bersyukur ketika berhasil dan bersiap untuk keberhasilan selanjutnya. Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik. Tiada satu Agama pun di dunia yang bisa membuat semua orang jadi baik. Yang ada; cuma orang baik dan mempunyai itikad yang baik sehingga menggunakan Agama apa pun yang sesuai Hati Nurani, untuk tujuan kebaikan, biasanya akan jadi baik."

"Jangan takut kepada para penentang-penentang Sahabat, karena layang-layang pun terbang karena menantang angin."

“Hidup ini singkat, lepaskan mereka yg menyakiti atau MEMBOHONGI Sahabat, sayangi mereka yg peduli pada Sahabat, dan berjuanglah untuk mereka yg berarti bagi Sahabat."

***

Saturday, June 2, 2012

Arti sebuah Maaf

Ada seorang pria yang datang ke bengkel membawa mobilnya untuk diservis. Singkat cerita, setelah selesai di servis sang montir mengantarkan kunci mobil tersebut kepada pria sang pemilik mobil yang telah menunggunya diruang tunggu.

Keesokan harinya, pria tersebut datang kembali ke bengkel, lengkap dengan pakaian dinasnya langsung menuju ke ruang pimpinan bengkel sambil mengajukan tuduhan siapa yang telah mencuri tas kecil miliknya yang ia taruh di bagasi mobil.

"Saya akan menuntut Anda dan bengkel Anda sesuai ketentuan hukum yang berlaku! Saya mengerti hukum!"

Namun dengan tenang, sang pimpinan melihat nota service yang dikeluarkan atas jasa service mobil tersebut. Setelah itu sang pimpinan memanggil montir yang bersangkutan, selanjutnya pria tersebut bersama dengan montir memeriksa bagasi mobil yang dimaksud untuk mencari tas kecil milik pria tersebut. Ternyata tas kecil milik pria tersebut masih berada ditempatnya dan si Pria itu hanya berkata datar, singkat, dengan suaranya yang lemah “Maaf” (Karena ketahuan salah menuduh seseorang) sambil segera menutup bagasi mobil lalu mengendarai mobil nya meninggalkan bengkel dengan melambaikan tangannya.

Disini, jelas dan tegas bahwa pria tersebut tidak mau menyelesaikan persoalan yang dibawanya, yaitu menuduh orang atas tas miliknya yang dianggap hilang. Sekedar permintaan maaf atas kejadian tersebut, dia hanya menghapus rasa bersalah (seharusnya menebus perbuatan salahnya agar tidak terulang kembali) dan persoalan dianggap selesai hanya karena tas miliknya sudah ditemukan.

Dalam Indonesian Emotion Quotient (IEQ), kita diingatkan bahwa ada syarat yang wajib dipenuhi dalam Meminta Maaf, antara lain:
1. Yang bersangkutan mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya.
2. Yang bersangkutan segera menyetop perbuatan salahnya dan tidak mengulanginya lagi.
3. Yang bersangkutan menebus Perbuatan salahnya, bukan cuma menghapus rasa bersalahnya.
4. Alangkah baiknya yang bersangkutan bisa memberi inspirasi untuk orang lain.

"Maaf, juga tak selalu berarti Sahabat salah atau benar. Terkadang Sahabat hanya ingin menghargai persahabatan yang lebih dari ego pribadi Sahabat."

Dan yang menarik, Mengalah terhadap orang yang salah adalah DUA KALI BENAR, Baik ya...8)

***

Ada kisah lain, seorang pria dari desa yang mengadu nasib di Ibu Kota. Namun karena keterbatasan pendidikan, sang pria akhirnya cuma menjadi bandit Ibu Kota. Setelah sekian tahun melalang buana, sang pria tersebut ditangkap polisi selanjutnya menjalani hukuman penjara. Singkat cerita, menjelang kebebasan dirinya dari penjara, dia menulis surat untuk ayahnya yang sepuh sementara ibundanya telah meninggal dunia. Diakhir isi suratnya, dia menyatakan, jika ayahnya telah memaafkannya atas prilaku buruknya selama ini, cukup taruh satu kain putih dipohon depan rumahnya maka ia akan datang. Jika tidak maka ia tidak akan pulang selamanya.

Dihari kebebasannya dari penjara, dia naik kereta api menuju kampung halaman tempat ayahnya yang sepuh berada. Semakin dekat kampung halamannya, dia semakin berdebar debar jantungnya. Dia ragu dan takut meliat kenyataan yang akan dihadapinya. Ia bertanya pada penumpang lain, apakah ada “satu” kain putih yang ditancapkan di pohon depan rumah? Si penumpang menjawab bahwa tidak ada satu kain putih yang ditancapkan di depan rumah. Ia memohon sekali lagi pada penumpang itu dan tetap saja dikatakan bahwa tidak ada satu kain putih yang ditancapkan di depan rumah. Akhirnya ia harus memberanikan diri untuk melihat kenyataan, untuk melihat rumah di kampung halaman yang terakhir kalinya, syukur-syukur bisa melihat ayahnya yang sepuh dari jauh untuk terakhir kalinya pula.

Betapa terkejutnya ia, ternyata banyak sekali kain putih yang ditancapkan di atas pohon bahkan dibeberapa pohon sekitar rumah ayahandanya. Ia baru menyadari, ayahandanya sangat sayang padanya dan telah memaafkannya atas prilaku buruknya. Banyaknya kain putih yang digantungkan diatas pohon, adalah tanda agar ia mudah melihat sekaligus menyadari  betapa ayahandanya telah memaafkan dan menerimanya kembali tanpa syarat sebagai ungkapan cinta yang tulus.

Sekembalinya sang pria ini, setelah mengakui kesalahannya, ia segera menyetop prilaku buruknya lalu ia menebus kesalahannya tersebut dalam sisa hidupnya. Singkatnya terakhir, dalam menjalani sisa hidupnya ia memberi inspirasi dan mengedukasi kepada masyarakat sekitarnya agar tidak keliru lagi seperti yang telah ia lakukan.

“Sahabat tidak boleh melihat masa depan sebagai kelanjutan dari masa lalu karena masa depan akan sangat berbeda dengan masa lalu. Sahabat jangan terbelenggu cara kerja yang lampau agar kita sukses meraih masa depan.”

"Jangan biarkan bayangan masa lalu terus menerus mengusik Sahabat. Belajarlah memaafkan, setidaknya itu bisa buatmu tersenyum kembali saat ini."

Oh indahnya memaafkan...

Mau?

Thursday, May 31, 2012

Tidak Ada yang Salah

Ceritanya;

Di pagi hari sepulangnya dari pasar sang Ibu membawa masuk barang belanjaannya ke dapur rumahnya. Di ruang tengah rumah, terlihat anaknya yang Balita tengah ditemani sepupunya menonton TV.
Sambil menghampiri si buah hati dan sepupunya tak lupa sang Ibu memberi seikat buah rambutan untuk mereka makan sambil menonton TV.

Sang Ibu kembali melanjutkan pekerjaannya di ruang dapur, namun ditengah kesibukannya memasak untuk keluarganya, tiba-tiba terdengar teriakan keras minta tolong dari sepupunya. Cepat-cepat sang Ibu menghampiri sumber suara tsb. Sesampainya di ruang tengah, terlihat buah hatinya dalam keadaan sulit bernafas. Diceritakan oleh sepupunya bahwa sang Balita menelan buah rambutan sehingga sulit bernafas.

Dalam kepanikannya, sang Ibu segera saja membawa buah hatinya ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan. Ditengah ketergesaan menuju rumah sakit terdekat, Sang Ibu pun segera menghubungi sang Suami sekaligus Ayah sang Balita untuk datang ke rumah sakit yang dituju.

Sesampainya sang Ayah di rumah sakit, mereka berkumpul sambil berharap harap cemas mengenai keselamatan Buah Hati mereka. Tiba-tiba muncul seorang Dokter dari ruang tindakan untuk Balita mereka. Kedatangan si Dokter telah memecahkan keheningan suasana, namun dengan wajah tertunduk dan suara datar Si Dokter mengatakan bahwa sang Balita nyawanya sudah tidak tertolong lagi dalam perjalanan menuju rumah sakit tsb.

Dengan wajah sedih sang Ibu menundukkan mukanya seraya berkata kepada Suaminya, "Semua adalah salah saya, jika saja hari ini saya tidak sibuk memasak di dapur tentunya anak kita masih hidup dan sehat.”

Sang Suami dengan wajah yang tak kalah sedihnya, memeluk sang Istri sambil berbisik, “Tidak ada yang salah dalam hal ini. Ini adalah kehendak TUHAN yang terbaik untuk buah hati kita Bu, tolong Ibu jangan lagi menyalahkan diri sendiri dan membuat kita semua semakin larut dalam kesedihan yang berkepanjangan, dan bukankah Buah Hati kita telah kembali kepangkuan TUHAN?”

***

Mencermati kejadian diatas, tentu ada benarnya dengan kata-kata mutiara seperti di bawah ini;

Yang menyalahkan diri orang lain, adalah Orang Biadab

Yang menyalahkan diri sendiri, adalah Orang Biasa

Yang Tidak Menyalahkan siapapun, adalah Orang yang Bijaksana dan Luar Biasa

Cerita diatas, mengingatkan saya akan pengalaman saya. Secara umum bahwa hidup saya maupun Sahabat  semua, siapapun kita, dimanapun, dimulai sebagai Orang yang Biasa didalam perjalanannya. Jika saja Sahabat  semua mau membuka pintu Hati, lalu diterapkan dalam Tindakan maka tentu Sahabat semua akan menjadi Orang yang Bijaksana.

Namun, dalam pergeseran paradigma Integritas saat ini, yang sarat dipengaryhi lingkungan dan perubahan telah membawa Kebijaksanaan lain yang sifatnya semu, bahkan bias dan rancu, yang tentunya berbeda dengan Indonesian Emotion Quotient (IEQ) yang selalu memakai nilai- nilai Luhur
Adalah Bijaksana saat Sahabat semua mau dan mampu melihat suatu persoalan, juga dari kacamata orang lain, sambil mengerti untuk mendapat atau memberi yang terbaik, tanpa melukai siapapun, dalam penerapannya dapat dimisalkan seperti; "Silahkan ambil Ikannya, tolong jangan buat Keruh airnya".

Yang unik, dasar dari IEQ adalah, mengalirnya Kasih sayang yang tulus. Dengan Kasih sayang yang tulus, maka dengan sendirinya akan membuahkan kesamaan, bahkan dalam aspek spiritual, dikatakan bahwa semakin manusia berbagi waktu, atau apapun yang dimilikinya untuk sesama, dan bagi kemuliaan Tuhan, maka sifat-sifatnya pun akan semakin menyerupai sifat-sifat Tuhan. Nah sekarang, saatnya Sahabat kembali menggunakan IEQ milik Sahabat semua, untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan bermakna...Yuuuk

Wednesday, May 30, 2012

Hati yang ber-Prasangka

Di suatu siang, seorang janda setengah tua sedang menyiapkan kue yang akan dijual keliling desanya. Sambil merapikan barang dagangannnya, sang Ibu berpesan pada putri tunggalnya yang berusia 7 tahun. Kita sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya).

"Bunga jangan main-main keluar rumah ya. Cuaca sudah mendung gelap akan segera hujan," Ibunya berpesan.

Beberapa saat setelah selesai merapikan kue dagangan dan perlengkapannya, ketika akan pergi sang Ibu kembali memanggil Bunga namun yang dipanggil tak kunjung menjawab dan tidak muncul. Dengan menggerutu dan tergesa-gesa, sang Ibu bergegas pergi untuk menjual kue dagangannya sambil mengunci rapat pintu rumahnya dari luar.

Dalam batin sang Ibu berkata; Dasar anak nakal sudah dilarang main diluar rumah masih saja pergi. Sekali kali Bunga perlu diberi pelajaran biar jadi anak yang baik.

Benar saja, tak lama kemudian hujan deras datang. Bunga kecil yang pulang ke rumah pun jadi basah kuyup. Bunga berusaha masuk rumah, namun pintu rumah terkunci dari luar. Bunga tidak bisa masuk.
Ditengah basah kuyup dan kedinginan karena hujan deras yang mengguyur, Bunga semakin bingung untuk masuk kedalam rumahnya. Tanpa disadari Bunga, ada seekor ular berbisa yang berhasil menggigit Bunga. Dalam hitungan menit, tiba-tiba Bunga terjatuh lunglai didepan pintu masuk rumahnya.

Pada malam hari sekembalinya sang Ibu dari berjualan keliling kue sang Ibu melihat Bunga di depan pintu masuk rumahnya. Batinnya berkata; Dasar anak nakal sekarang malah tidur di depan pintu masuk.

Lagi-lagi sang Ibu memanggil Bunga, namun yang dipanggil kembali tidak menjawab. Setelah dekat, betapa kaget sang Ibu yang meliat ada bekas gigitan ular berbisa di tubuh mungil Bunga. Cepat-cepat sang Ibu membawa masuk Bunga untuk diobati sambil berkata bahwa Ibu sayang Bunga, sekarang Bunga bangun. Sang Ibu berkata dengan berulang ulang, namun Bunga tetap tidak bergerak.

Ditengah kebingungannya, sang Ibu melihat ada bungkusan yang terjatuh dari genggaman Bunga, lalu diambil dan dibuka oleh sang Ibu, ada sebungkus kecil biscuit, dan ada tulisan dikertas tersebut. Sang Ibu hafal ini adalah tulisan Bunga, putri tunggalnya, tertulis:

Hari ini, saya hanya bisa membeli biscuit kecil untuk mama, selamat ulang tahun Mama.

Seketika itu juga, pecah lah tangis sang Ibu untuk Bunga, putri tunggalnya yang tersayang... Yang telah pergi selamanya...

***

Dalam menjalani hidup banyak hal hal yang terjadi diluar perkiraan kita karena apa yang kita lihat, belum tentu seperti yang kita maksud. Contoh mudahnya kita tonton saja atraksi sulap.

Mau jadi dokter, ada sekolahnya...

Mau jadi polisi, ada juga sekolahnya...

Mau jadi orangtua, dimana sekolahnya? 

Kalau mau sekedar jadi orangtua, rasanya cukup menikah selanjutnya mempunyai anak karena tanpa belajar dan berjuang pun, tetap akan menjadi orangtua.

Tentunya akan berberbeda, ketika kita ingin menjadi orangtua yang Bijaksana dan penuh kasih untuk anak anak kita, singkatnya kita cukup buka pintu Hati lalu belajar dan lakukan Indonesian Emotion Quotient (IEQ) di Hati Kita, yang mungkin secara tidak sadar telah lama kita tinggalkan, mari kita buka kembali Hati kita yang sudah lama tertutup bakhan terkunci, dan kini saatnya untuk Sahabat berbagi IEQ bagi semua anak-anak Indonesia...

Tuesday, May 29, 2012

Arti Kasih Seorang Ibu

Suatu sore, seorang Ibu tengah terduduk di kursi rodanya di tepi danau sambil di temani Anaknya yang sudah mapan dan berkeluarga. Beberapa saat kemudian si Ibu bertanya,

"Nak, itu burung apa yang berdiri di sana?"

Si anak menjawab dengan sopan, "Bangau, ma..."

Tak lama kemudian Si Ibu bertanya lagi.

"Nak, itu yang warna putih burung apa?"

Sedikit mulai kesal Anaknya menjawab, "Ya bangau, ma!"

Kemudian ibunya kembali bertanya, "Nak, lantas itu burung apa?" Ibunya menunjuk burung bangau tadi yang sedang terbang.

Dengan nada kesal si anak menjawab, " Ya bangau, mama! Kan sama saja! Memangnya mama tidak lihat dia terbang?!"

Air menetes dari sudut mata si mama sambil berkata pelan, "Nak, dahulu 26 tahun yang lalu aku memangku kamu, dan menjawab pertanyaan yang sama untuk mu sebanyak 10 kali... Sedang saat ini aku hanya bertanya 3 kali, tapi kamu membentak ku 2 kali... "

Si anak terdiam... Lalu memeluk mamanya.

***

Pernahkah kita memikirkan apa yang telah diajarkan oleh seorang Mama kepada kita?
Sayangilah Mama/Ibu-mu dengan sungguh-sungguh, karena Surga berada di telapak kaki Ibu.
Mohon ampunan jika kamu pernah bahkan sering menyakiti hati Ibumu.
Dan teruskan kepada Orang-orang yang perlu membaca renungan ini.

Pernah kita memarahi dia?
"Pernah!"
Pernah kita cuekin dia?
"Pernah!"
Pernah kita mikir apa yang dia pikirkan?
"Nggak,"

Sebenernya apa yang dia Pikirkan?

TAKUT.

- Takut tidak bisa melihat kita senyum, nangis atau ketawa lagi.
- Takut tidak bisa mengajar kita lagi...

Semua itu karena waktu dia singkat.
Saat mama/papa menutup mata, tidak akan lagi ada yang cerewet.
Saat kita menangis memanggil-manggil dia, apa yang dia balas? Dia cuma terdiam.
Saat kita memberi dia materi, apa yang dia ambil? Dia cuma terdiam.
Tapi bayangannya dia tetap di samping kita dan berkata, "Anakku jangan menangis, mama/papa masih di sini. Mama/papa selalu sayang kamu,"

Saya tidak berbagi pengetahuan, saya hanya ingin mengajak perilaku sahabat agar sama dengan Indonesian Emotion Quotient (IEQ) milik Nenek Moyang kita kepada sahabat semua. Kita mulai dari diri kita sendiri dahulu, mulai dari hal yang paling mudah. Mulai dari sekarang, yuk! ;]

Monday, May 28, 2012

Kisah Seekor Belalang

Seekor Belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.

Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu dan bertanya,

“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh?”

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar, bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas. 

***

Terkadang kita sebagai manusia tanpa sadar pernah juga mengalami hal yang sama dengan pengalaman belalang ini. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita.

Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang telah mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir ulang. Benarkah Sahabat sudah separah itu?

Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri. Tidakkah Sahabat  pernah mempertanyakan kepada hati nurani bahwa Sahabat bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Sahabat mau menyingkirkan “kotak” itu? Wahai Sahabat, Kotak itu pun bukan kotak “PANDORA”. Tidakkah Sahabat ingin membebaskan diri agar Sahabat bisa mencapai sesuatu yang selama ini Sahabat anggap diluar batas kemampuan Sahabat? Beruntung sebagai manusia, kita telah dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang sehingga Sahabat tidak boleh mudah menyerah begitu saja pada apa dialami. 

Karena itu Sahabatku, teruslah berusaha mencapai apapun yang Sahabat ingin capai. Sakit memang, juga lelah, tapi bila Sahabat sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Kehidupan Sahabat akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Sahabat. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Sahabat.

Mari Sahabat pergunakan Indonesian Emotion Quotient (IEQ) milik kita semua tuk menuju kehidupan yang lebih bahagia, bermakna dan bermartabat... Yuk!!!