If you get serious, you get stupid. Laughter is the close distance between two person.

Saturday, June 16, 2012

True Self

Setelah Sahabat  membahas beberapa jenis topeng kehidupan tersebut dan sekarang saatnya Sahabat bertanya pada diri sendiri, bagaimana caranya agar setiap orang  dapat melepaskan diri dari kehidupan bertopeng yang sangat meletihkan ini? Bagaimana caranya untuk membuang topeng-topeng palsu yang telah menutupi Jati Diri yang sejati (True Self)? Bagaimana caranya agar setiap orang bisa perlahan-lahan mampu memakai Jati Diri yang sejati, yang menempel di wajahnya? Bagaimana caranya agar setiap orang  dapat hidup dengan otentik?

Mari Sahabat mendalami lebih jauh sedikit, mengenai konsep menjadi pribadi dengan muatan emosi-emosi positif. Di dalam IEQ, hidup setiap orang pada dasarnya terdiri atas 3 bagian. Pada bagian pertama adalah Citra Diri kita (Self Image), ini adalah apa yang kita tampilkan secara sosial, apa yang ingin kita tampilkan keluar, dan ini menyangkut mengenai penilaian orang lain terhadap diri kita. Bagian kedua menyangkut Konsep Diri (Self Image), konsep diri ini menyangkut apa penilaian diri kita, terhadap diri kita sendiri. Bagian terakhir, adalah bagian yang paling dalam yaitu Jati Diri (True Self), diri kita yang sesungguhnya.
Bukanlah tugas kita untuk membuat garis-garis pembatas itu, semakin hari menjadi semakin jelas, akan tetapi justru sesungguhnya untuk menjadikan semua diri- diri itu akhirnya menjadi satu dalam bentuk pribadi diri yang otentik. Saya jadi teringat dengan cerita orangtua saya yang mengajarkan, bahwa orang harus hidup “dari dalam keluar”. Jadi seseorang mulai hidup, dari jati dirinya sendiri yang sejati, karena dari sanalah sebenarnya terkandung prinsip-prinsip, nilai-nilai, dan keyakinan yang mengarahkan kehidupan seseorang sampai nanti.

Kehidupan yang modern, justru semakin membuat kita seakan-akan membangun suatu diri yang terpisah, satu dengan yang lainnya, yang pada akhirnya kehidupan menjadi semakin semu, bahkan semakin bias. Antara apa yang menjadi Citra Diri, Konsep Diri, maupun Jati Diri kita yang sesungguhnya, sering kali bertolak belakang, bahkan bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Tanpa sadar, kita sesungguhnya terdistorsi, terdelesi bahkan Terkontaminasi lalu memelihara suatu kehidupan yang terpisah. Bayangkan, hanya karena kita begitu ingin diterima oleh masyarakat, maka kita mulai membangun citra diri yang tampaknya positif, sehingga kita takut mengungkapkan perasaan perasaan kita yang sesungguhnya. Kita pun takut dengan keterbatasan diri kita yang akan terlihat, bahkan kita punya kekwatiran rentan dan rapuh. Karena itu semua, kita sering menjadi cemas jika nanti dinilai negatif, maka kita mendekontruksi diri, dalam sebuah image baru melalui gaya, gengsi, pakaian, tutur kata, bahkan titel-titel, dan lain-lainnya. Pada akhirnya kita hanya meratap, agar diri kita dicintai dan diterima, sementara inilah Citra Diri yang kita bangun selama ini.

Dibalik ini semua, kita punya keyakinan sendiri mengenai siapa diri kita, terlepas pandangan dan persepsi ini, bisa benar dan bisa pula keliru. Saya jadi teringat bahwa pengalaman, pendidikan dan masukan-masukan dari orang lain akan membentuk pandangan diri tentang “Siapa Kita”. Sekarang tinggal pilih,  kita mau hitam-putih atau warna-warni yang ada di dalam diri kita secara jujur tentang diri kita.
Ya saya sepakat dengan bahwa "Setiap bayi yang terlahir berhak menuliskan cerita hidupnya sendiri dengan tangan dan penanya masing-masing. Sekalipun terkadang berbagi tinta dengan orang lain."

Mari kita mulai dari Jati Diri yang paling sejati, yang tidak bisa bohong dan tidak bisa juga dibohongi. Jati Diri kita ini terkait dengan Hati Nurani, mental dan spiritual serta fisik, inilah diri yang pada awalnya diciptakan sejalan dengan citra, dan gambaran Tuhan, artinya Jati Diri adalah pribadi yang jujur adanya. Setiap kebohongan dan manipulasi, yang diri kita lakukan untuk menentang Jati Diri ini, akan menimbulkan konsekwensi yang tidak bisa lagi kita kendalikan.  Pada saatnya, Suara Hati kita akan menentangnya dengan keras, dan aturan dimasyarakat pun punya andil konsekwensi hukuman, atas apa yang terjadi. Namun demikian, sekali lagi, dalam perjalanannya, Jati Diri bisa bergeser, dimatikan atau dimanipulasi, seperti yang kita saksikan dalam topeng-topeng kehidupan dimasyarakat.

Mengapa? Semua ini hanya karena kita lebih mengutamakan narcis, keegoisan kita, ketamakan, dan ketakutan kita yang berlebihan yang tidak pada tempatnya, singkatnya manusia lebih mengaktualisaikan Konsep Diri daripada Jati Diri nya yang sejati. Ketidakjujuran kita dengan diri kita sendiri, akan menjadikan banyak pertentangan dan konflik batin dalam relung Hati kita yang paling dalam, kita pun akhirnya banyak merasakan ketidaktenangan dan keberdosaan, lalu dihampiri berbagai perasaan takut, malu atau cemas yang kemudian seringkali tumpah keluar, dalam bentuk menyerang, mencurigai bahkan begitu cepatnya kita menghakimi dan menjatuhkan vonis terhadap orang lain, apalagi adanya influence dan intervensi dari luar diri kita.

Akibatnya cukup fatal, tanpa kita sadari, terkadang kita cenderung membesarkan masalah, dan tidak menyadari bahwa sesungguhnya masalah yang telah membesarkan kita. Sudah saatnya Sahabat ubah Masalah menjadi Manfaat, dan masih segar dalam ingatan saya, ada nasihat bijak dari nenek saya, untuk membicarakan ide, kira-kira begini bunyinya:

"Small people talk about gossip or others
Ordinary people talk about events
Extraordinary people talk about ideas"

Menghadapi ini semua, tinggalkan, apa pun itu, apakah itu narcis, ketidakjujuran, keegoisan, keserakahan atau ketakutan, serta influence  dan intervensi dari luar, baik yang kita sadari maupun tidak, alangkah baiknya kita semua kembali menggunakan IEQ,  yang  ada didalam  “Hati Sahabat”, dan yang Sahabat kenal bernama Bakul Jamu. Oh ya, ada pesan bijak dari Bakul Jamu untuk Sahabat...

Lose money as big as anything is a little lose.Lose a health is too a lot lose.Lose of integrity is lose everything.

Ya, walaupun namanya memang Bakul Jamu, dan terlihat begitu sederhana (alias Jadul = Jaman Dulu) namun sesungguhnya selalu penuh makna, terbukti isinya mampu Menyembuhkan, MENYEHATKAN, Menyegarkan.., diri Sahabat dari hari ke hari.. Be your self ;)

No comments:

Post a Comment