If you get serious, you get stupid. Laughter is the close distance between two person.

Wednesday, July 4, 2012

Oh my God: Last Regret

Ini kisah fiktif namun penuh inspirasi, saya persembahkan untuk Sahabat semua. Kalau saja ada kesamaan atau kemiripan, itu hanya suatu kebetulan saja.

***

Ceritanya, diawali pada hari pernikahanku, mobil pengantin berhenti tepat di depan apartment kami.
Teman-teman yang hadir berteriak dan memaksaku menggendong. Istriku sebut saja Hanum dan aku menggendongnya ketika baru keluar dari mobil, lalu aku menggendongnya sampai ke apartemen kami. Dia terlihat tersipu malu-malu. Saat itu, aku adalah seorang pengantin pria yang kuat dan bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari berikutnya berjalan biasa. Kami memiliki seorang anak, aku bekerja sebagai pengusaha dan berusaha menghasilkan uang lebih untuk keluarga. Entah mengapa ketika aset-aset perusahaan semakin meningkat, kasih sayang diantara aku dan istriku seperti mulai menurun. Kebetulan istriku seorang pegawai pemerintah. Setiap pagi kami pergi bersama dan pulang hampir di waktu yang bersamaan. Anak kami bersekolah di sekolah asrama. Kehidupan pernikahan kami terlihat sangat bahagia, namun kehidupan yang tenang sepertinya lebih mudah terpengaruh oleh perubahan dan lingkungan yang tak terduga.

Lalu Nancy (bukan nama sebenarnya), wanita intim lainnya yang  datang ke dalam kehidupanku. Hari itu hari yang cerah. Aku berdiri di balkon yang luas. Nancy memelukku dari belakang. Sekali lagi hatiku seperti terbenam di dalam cintanya. Apartement ini aku belikan untuknya. Lalu Nancy berkata,

"Kau adalah laki-laki yang pandai memikat wanita."

Kata-katanya tiba-tiba mengingatkan ku pada istriku Hanum. Ketika kami baru menikah, istriku berkata,

"Laki-laki sepertimu, ketika sukses nanti, akan memikat banyak wanita."

Memikirkan hal ini, aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu, aku telah mengkhianati istriku.

Aku menyampingkan tangan Nancy dan berkata, "Kamu perlu memilih beberapa furnitur, ok? Ada yang perlu aku lakukan di perusahaan." Dia terlihat tidak senang, karena sebelumnya aku telah berjanji akan menemaninya
melihat-lihat furnitur untuk apartemennya.

Sesaat, pikiran untuk bercerai menjadi semakin jelas walaupun sebelumnya tampak mustahil. Bagaimanapun juga, akan sulit untuk mengatakannya pada istriku. Tidak peduli selembut apapun aku mengatakannya, dia akan sangat terluka. Sejujurnya, dia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam, dia selalu sibuk menyiapkan
makan malam. Aku duduk di depan televisi. Makan malam akan segera tersedia. Kemudian kami menonton TV bersama. Hal ini sebelumnya merupakan hiburan bagiku.

Suatu hari aku bertanya pada istriku dengan bercanda, "Kalau misalnya kita bercerai, apa yang akan kamu lakukan?" Dia menatapku beberapa saat tanpa berkata apapun. Kelihatannya dia seorang yang percaya bahwa perceraian tidak akan datang padanya. 

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya ketika nanti dia tahu bahwa aku serius tentang ini. Ketika istriku datang ke kantorku, Nancy langsung pegi keluar. Hampir semua pegawai melihat istriku dengan pandangan simpatik dan mencoba menyembunyikan apa yang sedang terjadi ketika berbicara dengannya. Istriku seperti mendapat sedikit petunjuk. Dia tersenyum dengan lembut kepada bawahan-bawahanku. Tapi aku melihat ada perasaan luka dimatanya yang indah.

Sekali lagi, Nancy berkata padaku, "Sayang, cepat ceraikan dia, ok? Lalu kita akan hidup bersama dengan bahagia." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak bisa ragu-ragu lagi. Ketika aku pulang malam itu, istriku sedang menyiapkan makan malam. Aku menggemgam tangannya dan berkata, "Ada yang ingin aku bicarakan." Dia kemudian duduk dan makan dalam diam. Lagi, aku kembali melihat perasaan luka dari matanya. Tiba-tiba aku tidak bisa membuka mulutku. Tapi aku harus tetap mengatakan ini pada istriku. Aku ingin bercerai. Aku memulai pembicaraan dengan tenang.

Dia seperti tidak terganggu dengan kata-kataku, sebaliknya malah bertanya dengan lembut, "Bagaimana?" Aku menghindari pertanyaannya. Hal ini membuatnya marah. Dia melempar sumpit dan berteriak padaku, "Kamu bukan seorang pria sejati!" Malam itu, kami tidak saling bicara. Dia hanya menangis. Aku tahu, dia ingin mencari
tahu apa yang sedang terjadi di dalam bahtera pernikahan kami. Tapi aku merasa sulit memberikannya jawaban yang memuaskan, bahwa hatiku sekarang telah memilih Nancy.

Aku tidak mencintai istriku lagi. Aku hanya mengasihani istriku! Dengan perasaan bersalah, aku membuat perjanjian perceraian yang menyatakan bahwa istriku bisa memiliki rumah kami, mobil kami dan 50% aset perusahaanku.

Dia melirik surat itu dan kemudian segera saja merobek-robeknya. Ya, wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya denganku, tiba-tiba saja telah menjadi seorang yang asing bagiku. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu, daya dan tenaganya tapi aku tidak bisa menarik kembali apa yang telah aku katakan karena aku sangat mencintai Nancy. 

Akhirnya istriku menangis dengan keras di depanku, seperti yang telah aku perkirakan sebelumnya. Bagiku, tangisannya adalah semacam pelepasan. Pikiran tentang perceraian yang telah memenuhi diriku selama beberapa minggu belakangan, sekarang menjadi tampak tegas dan jelas. Tinggal eksekusi saja.

Hari berikutnya, aku pulang terlambat dan melihat istriku menulis sesuatu di meja makan. Aku tidak makan malam, tapi langsung tidur dan tertidur dengan cepat karena telah seharian bersama Nancy. Ketika aku terbangun, istriku masih disana, menulis. Aku tidak mempedulikannya dan langsung kembali tidur. 

Paginya, dia menyerahkan syarat perceraiannya: Dia tidak menginginkan apapun dariku, hanya menginginkan perhatian selama sebulan penuh sebelum perceraian. Dia meminta dalam 1 bulan itu, kami berdua harus berusaha hidup sebiasa mungkin. Alasannya sederhana : Anak kami sedang menghadapi ujian dalam sebulan
itu, dan dia tidak mau mengacaukan pikiran anak kami dengan perceraian kami.

Aku setuju saja dengan permintaannya. Namun dia meminta satu lagi, dia memintaku untuk mengingat bagaimana menggendongnya ketika aku membawanya ke kamar pengantin, di hari pernikahan kami. Dia memintanya selama 1
bulan setiap hari, aku menggendongnya keluar dari kamar kami, ke pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia gila, akan tetapi aku tetap menerima permintaannya yang aneh karena hanya ingin membuat hari-hari terakhir kebersamaan kami lebih mudah diterima olehnya. 

Aku memberi tahu Nancy tentang syarat perceraian dari istriku. Nancy tertawa keras dan berpikir bahwa hal itu berlebihan. "Trik apapun yang dia gunakan, dia harus tetap segera menghadapi perceraian!", kata Nancy, dengan nada menghina.

Istriku dan aku sudah lama tidak melakukan kontak fisik sejak keinginan untuk bercerai mulai terpikirkan olehku. Jadi, ketika aku menggendongnya di hari pertama, kami berdua tampak canggung. Anak kami bertepuk tangan di belakang kami. Katanya, "Papa menggendong mama!" Kata-katanya membuat ku merasa terluka. Dari kamar ke ruang tamu, lalu ke pintu depan, aku berjalan sejauh 10 meter, dengan dirinya dipelukanku. Dia menutup mata dan berbisik padaku, "Jangan bilang anak kita mengenai perceraian ini." Aku mengangguk, merasa sedih. Aku menurunkannya di depan pintu. Dia pergi untuk menunggu busway untuk bekerja. Aku sendiri naik mobil ke kantor.

Hari kedua, kami berdua lebih mudah bertindak. Dia bersandar di dadaku. Aku bisa mencium wangi dari pakaiannya. Aku tersadar, sudah lama aku tidak sungguh-sungguh memperhatikan wanita ini. Aku sadar dia sudah tidak muda lagi, ada garis halus di wajahnya, rambutnya memutih. Pernikahan kami telah membuatnya susah. Sesaat aku terheran, selama ini apa yang telah aku lakukan padanya?

Hari berikutnya, ketika aku menggendongnya, aku merasa rasa kedekatan bersamanya seperti telah kembali lagi. Wanita ini adalah seorang yang telah memberikan 10 tahun kehidupannya padaku. Hari telah berhanti hari berikutnya, aku semakin sadar rasa bahwa kedekatan kami telah semakin bertumbuh. Aku tidak mengatakan ini pada Nancy.

Seiring berjalannya waktu semakin mudah menggendongnya. Mungkin karena aku rajin berolahraga membuatku semakin kuat.

Satu pagi, istriku sedang memilih pakaian yang dia ingin kenakan. Dia mencoba beberapa pakaian tapi tidak menemukan yang pas. Kemudian dia menghela nafas, "Pakaianku semua jadi besar." Tiba-tiba aku tersadar bahwa dia telah menjadi sangat kurus. Ini lah alasan aku bisa menggendongnya dengan mudah. Tiba-tiba aku terpukul. Dia telah memendam rasa sakit dan kepahitan yang luar biasa di hatinya. Tanpa sadar aku menyentuh kepalanya.

Anak kami datang saat itu dan berkata, "Pa, sudah waktunya menggendongmama keluar." Bagi anak kami, melihat ayahnya menggendong ibunya keluar telah menjadi arti penting dalam hidupnya. Istriku melambai pada anakku
untuk mendekat dan memeluknya erat. Aku mengalihkan wajahku karena takut aku akan berubah pikiran pada saat terakhir. Kemudian aku menggendong istriku, jalan dari kamar, ke ruang tamu, ke pintu depan. Tangannya melingkar di leherku dengan lembut. Aku menggendongnya dengan erat, seperti ketika hari pernikahan kami. Tapi berat badannya yang ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya, sulit sekali bagiku untuk bergerak. Anak kami telah pergi ke sekolah. Aku menggendongnya dengan erat dan berkata lembut di telinganya, "Aku tidak memperhatikan kalau selama ini kita kurang kedekatan, I love Mama."

Aku pergi ke kantor, keluar cepat dari mobil tanpa mengunci pintunya. Aku takut, penundaan apapun akan mengubah pikiranku. Aku jalan keatas, Nancy membuka pintu dan aku berkata padanya, "Maaf, Nancy, aku tidak mau bercerai." Dia menatapku, dengan heran menyentuh keningku. "Kamu demam?", tanyanya. Aku menyingkirkan tangannya dari kepalaku. "Maaf, Nancy, aku sadar dan aku bilang, aku tidak akan bercerai dengan Hanum."

Kehidupan pernikahanku selama ini membosankan mungkin karena aku dan istriku miskomunikasi dan belum sadar menilai segala detail perjalanan kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai. Sekarang aku sudah sadar, sejak aku menggendongnya ke rumahku di hari pernikahan kami, aku harus terus menggendongnya sampai maut memisahkan kami.

Nancy seperti tiba-tiba tersadar lalu terkejut, karena tidak menyangka dan tidak suka akan hal itu. Dia menamparku keras kemudian membanting pintu dan lari sambil menangis. Aku turun dan pergi keluar.

Di toko bunga, ketika aku berkendara pulang, aku memesan satu buket bunga untuk istriku. Penjual menanyakan padaku apa yang ingin aku tulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, aku akan menggendongmu setiap
pagi sampai maut memisahkan kita.

Sore itu, aku sampai rumah, dengan bunga di tanganku, senyum di wajahku, aku berlari ke kamar atas, hanya untuk menemukan istriku terbaring di tempat tidur – telah meninggal. Istriku telah melawan kanker selama berbulan-bulan dan aku terlalu sibuk dengan Nancy sampai tidak sempat memperhatikannya. Hanum tahu dia akan segera meninggal, dan dia ingin menyelamatku dari reaksi negatif apapun dari anak kami, seandainya kami
jadi bercerai.

Setidaknya, Hanum berkeinginan di mata anak kami, bahwa aku adalah suaminyang penyayang.

***

Hal-hal kecil di dalam kehidupan Sahabat yang paling penting dan paling dalam dari suatu hubungan adalah Trust dan Komitmen. Bukan rumah besar, mobil, properti atau uang di bank. Semua ini menunjang kebahagian tapi tidak bisa memberikan kebahagian itu sendiri. Jadi, carilah waktu untuk menjadi Sahabat bagi pasanganmu, dan lakukan hal-hal yang kecil bersama-sama untuk membangun kedekatan itu. Miliki pernikahan yang sungguh-sungguh dan bahagia.
"Terkadang Godaan terbesar saat Sahabat berhadapan dengan lawan jenis , yaitu yang mempunyai nilai lebih di banding pasangan Sahabat, di situlah kesetiaan pasangan di uji."

Terkadang, seseorang lebih memilih untuk tersenyum, hanya karena tidak ingin menjelaskan mengapa dia bersedih. Air mata adalah satu-satunya cara bagaimana mata berbicara ketika bibir tidak mampu menjelaskan apa yang telah membuat perasaannya terluka.

Keberagaman dan perbedaan pasangan adalah hal biasa yang akan banyak ditemui setiap saat dalam hidup ini. Terimalah, nikmati dan syukuri. Dan sesungguhnya kesulitan-kesulitan didalam hidup ditujukan untuk membuat  Sahabat menjadi lebih baik bukan lebih pahit...
Banyaknya kegagalan dalam kehidupan karena orang tidak sadar betapa dekat mereka dengan kesuksesan ketika mereka telah menyerah.

Kalau Sahabat tidak share ini, tidak akan terjadi apa-apa pada Sahabat. Kalau Sahabat share, mungkin Sahabat mampu menyelamatkan satu pernikahan.

Semoga Sahabat semua sangat menghargai dan memaknai suatu pernikahan...

No comments:

Post a Comment