If you get serious, you get stupid. Laughter is the close distance between two person.

Tuesday, July 31, 2012

"Read It For Me, Dad!"

Pada suatu malam, seorang eksekutif muda, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat direksi yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika ia sedang focus menyeleksi dokumen-dokumen kantor tersebut, tiba-tiba
putri tunggalnya Lovely datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru dari ibundanya.

Buku  cerita itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Lovely, “Papa liat !!!”  Lovely berusaha menarik perhatian ayahandanya. Sang Ayah hanya sesaat menengok ke arahnya, sambil menurunkan kacamatanya, kalimat yang keluar hanyalah kalimat “bubur ayam” yang hangatnya Cuma sebentar alias basi..uff maksudnya Basa-basi... “Wah,... buku baru ya Love?”,pura-pura kaget.

“Ya,  papa” kata Lovely dengan wajah yang  berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahandanya. “Bacain Lovely  dong,  Pa” pinta Lovely dengan lembut.

“Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh” sanggah Ayahanda dengan cepat. Lalu ia segera kembali mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan didepannya, dengan serius.

Lovely bengong sejenak, namun ia tetap berusaha. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu “pa, mama bilang papa mau baca untuk Lovely”

Sang ayahanda mulai agak kesal, “Lovely, papa sibuk, sekarang Lovely suruh mama baca ya”

“Pa, mama gak mau, katanya mama lagi sibuk terus...,kata mama, minta tolong papa aja, papa liat gambarnya lucu-lucu”,kata Lovely dengan manja.

“Lain kali Lovely !!! papa lagi banyak kerjaan” sergah sang Ayahanda  berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi menit berlalu, Lovely menarik nafas panjang dan tetap berada disisi ayahandanya, berdiri ditempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi, “Pa,.. gambarnya bagus, papa pasti suka”

“Lovely, PAPA BILANG, LAIN KALI, LAIN KALI...!!” kata sang Ayahanda  membentaknya dengan sangat keras, dan kali ini sang Ayahanda  berhasil, gairah Lovely kecil langsung terkulai, hampir menangis, matanya berkaca-kaca dan ia segera bergeser menjauhi ayahnya.

“Iya papa,.. lain kali ya papa?” Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya,  ia menaruh buku cerita tersebut di pangkuan sang  Ayahandanya.“Papa,  kalau papa ada waktu, papa baca keras-keras ya  papa, supaya Lovely  bisa denger”

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Lovely kecil tidak pernah terpenuhi, buku cerita Peri Imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras “Buukk!!” beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Lovely  kecil terlindas mobil seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah mereka saat Lovely menunggu sang Ayahandanya pulang dari kantor. Tubuh Lovely mungil terlempar sampai beberapa meter.

Dan dalam keadaan yang begitu panik mobil sang Ayahanda yang segera tiba di rumahnya langsung menuju rumah sakit terdekat untuk menolong putri tunggalnya,  selama perjalanan menuju rumah sakit, Lovely kecil sempat berkata dengan begitu lirih,“Lovely takut Papa, Lovely sayang Papa, Lovely juga  sayang mama” darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat.

Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani sang Ayahanda. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji, semua telah lenyap begitu saja dalam sekejap mata. Kini yang ada hanyalah penyesalan yang mendalam dan tidak berkesudahan... Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana,.. yang tidak terpenuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan sang Ayahanda  tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, dan kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali.

“…papa baca yang keras-keras ya Pa, supaya Lovely bisa denger” kata-kata Lovely masih terngiang-ngiang kembali, namun sejak sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati, canda dan riang Lovely kecil tidak akan pernah terdengar lagi, sang Ayahanda mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Lovely di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah lecek dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Lovely kecil.

Sang Ayahanda kembali  menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan sura keras, tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras, ia terus membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman, dengan berlinang air mata. “Lovely sekarang dengar papa baca ya” selang beberapa kata,.. hatinya memohon lagi “Lovely,  papa mohon ampun nak, papa sayang Lovely”  Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu sang Ayahanda bersujud dan menangis,..memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai.

***

“Salah satu alasan kenapa sang Ayahanda masih bersedih ketika gadis kecilnya pergi untuk selama-lamanya adalah karena cinta masih hadir di hati."

"Setiap bayi yang terlahir berhak menuliskan cerita hidupnya sendiri dengan tangan dan penanya masing-masing. Sekalipun terkadang ia berbagi tinta dengan orang lain."

Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi kesedihan kita, ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita karena ia BEGITU PEDULI kepada kita. Adakah  “PERHATIAN TERBAIK” itu begitu mahal bahkan tidak terjangkau bagi mereka yang lemah ? Berilah  “PERHATIAN TERBAIK”  tersebut walaupun jarang dilakukan,  bukankah kesempatan untuk memberi perhatian kepada orang-orang yang kita cintai itu sangat berharga ?

DO IT NOW, mulailah dengan "PEDULI", dan berilah “PERHATIAN TERBAIK” bagi mereka yang Sahabat  cintai. Ayo LAKUKAN SEKARANG !!  Karena tidak ada banyak kesempatan emas untuk memperhatikan dan memberikan yang terbaik buah hati Sahabat... ;)

No comments:

Post a Comment