If you get serious, you get stupid. Laughter is the close distance between two person.

Wednesday, July 25, 2012

Stay Away From Superstition

Kita seringkali disuguhkan dengan cerita dan melalui cerita pula, manusia cenderung mempercayai apapun yang tidak diketahuinya sama sekali, apalagi yang menceritakan adalah seseorang yang lebih tua, punya status terhormat masih ditambah dengan rasa sungkan kita. Melalui cerita alias MITOS
, seseorang yang tidak mengetahui, membuat seseorang tidak pernah merasa dibohongi.

Entah dari mana mulainya, yang pasti di tiap generasi pasti ada aturan-aturan yang diberikan secara turun temurun. Misalnya anak gadis tak boleh duduk di depan pintu rumah katanya bisa berat jodoh, kalau mau menikah harus pilih hari dan tanggal, jangan pilih rumah di ujung mulut gang ( tusuk sate ) dan sebagainya. Pendek kata, segala hal yang dilakukan harus disesuaikan dengan aturan-aturan yang ditetapkan entah oleh siapa dan entah kapan pula mulai berlakunya.

Hebohnya lagi, kita ( entah terpaksa atau suka ) juga jadi menyetujui semua aturan ini karena takut salah atau disalahkan. Padahal Firman Tuhan tidak pernah mengatakan apa pun tentang hal-hal tersebut.

Setiap bangsa memang memiliki kebudayaan dan tradisinya masing-masing. Ada saja hal-hal yang ditabukan. Ada saja aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pribadi dalam keluarga tersebut. Akan tetapi kita juga harus mengingat, bahwa tugas utama kita adalah berbagi Kasih untuk menjalankan perintah Tuhan dan menjauhkan larangan Tuhan, sesuai dengan Firman Tuhan agar kelak dapat kita pertanggungjawaban.

Apakah hal-hal yang dianggap tabu tersebut sudah selaras dengan perilaku dan prinsip hidup kita ? Misalnya, anak gadis tidak boleh duduk di depan pintu rumah. Pahami ini bukan sebagai hal yang membuat gadis itu sulit mendapat pasangan hidup, tapi karena duduk di depan pintu merepotkan orang lain yang hendak lewat; duduk di depan pintu bisa masuk angin.

Ada yang lain lagi, sebaiknya lantai rumah lebih tinggi daripada lantai rumah tetangga. Pahami ini yang dikatakan sebagai Hongsui bagus, karena sebenarnya dari jaman Nabi Nuh sudah ada banjir, jadi seandainya lantai rumah kita lebih tinggi, pasti tetangga dulu yang kebanjiran.  Setuju ya Sob?

Sebaiknya kita untuk tidak terusik dengan hal-hal yang bersifat takhayul atau cerita dongeng yang justru bertentangan dengan Firman Tuhan. Jika kita mempercayai semua tahayul itu maka ketika kita hendak melakukan segala sesuatu, kita akan disibukkan dengan semua aturan tersebut. Padahal semestinya kita tak perlu lagi repot dengan semua aturan itu.

Sebagai orang percaya, hal tertinggi yang menjadi patokan kita untuk melakukan segala hal adalah Firman Tuhan. Ini bukan berarti kita tidak menghormati orang tua sendiri atau menentang orangtua yang wajib dihormati, akan tetapi jika itu hanya takhayul, jauhilah itu...tidak ada gunanya untuk dipegang erat, hanya menjadi beban yang percuma.

Kebetulan saya ada cuplikan pidato Presiden Bung Karno pada HUT Proklamasi tahun 1964, “Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim. Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” 

Mari Sahabat untuk membiasakan berpikir jernih, dengan melihat manfaat dan berhitung tentang resiko. Membaca atau mendengar  tanpa berfikir, seperti makan tanpa mengunyah.

Ingatlah, ketika Sahabat berjalan ke arah yang salah, ternyata Tuhan masih mengizinkan Sahabat untuk berbalik... Baik ya...;)

No comments:

Post a Comment